Anak-anak Yaman, Korban Utama Agresi Militer Saudi

Indonesian Radio 5 views
Arab Saudi dengan dukungan Amerika Serikat bersama dengan beberapa negara lainnya melancarkan agresi militer ke Yaman sejak tanggal 26 Maret 2015. Kini serangan militer itu telah memasuki bulan ke-65.

Akibat agresi militer pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi, Yaman menghadapi tragedi kemanusiaan terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Anak-anak adalah korban kebrutalan pasukan agresor.

Invasi militer ke Yaman dan dukungan kekuatan-kekuatan besar Barat kepada pasukan koalisi dan bungkamnya lembaga-lembaga internasional atas kejahatan pasukan koalisi adalah faktor utama tragedi kemanusiaan di Yaman.

Jet-jet tempur Arab Saudi sejak awal invasi, menarget berbagai infrastruktur vital di berbagai daerah dan kota di  Yaman. Pemboman yang dilancarkan hampir setiap hari itu telah menyebabkan lebih dari 100.000 orang tewas, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Serangan tersebut juga menyebabkan puluhan ribu warga Yaman terluka dan lebih dari tiga juta dari mereka terpaksa mengungsi. Lebih dari 80 persen insfrastruktur Yaman, terutama di sektor kesehatan, luluh lantak.

Blokade darat, laut dan udara oleh pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi juga melipatgandakan penderitaan rakyat Yaman. Rezim Al Saud merupakan pemain utama yang menciptakan tragedi kemanusiaan di Yaman.

Blokade menyeluruh terhadap Yaman selama 65 bulan terakhir telah memperburuk tragedi kemanusiaan di negara Arab ini. Pelarangan masuknya kapal-kapal pengangkut bahan bakar ke Yaman juga menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat di negara ini.

Jet-jet tempur koalisi pimpinan Arab Saudi pada hari Kamis, 9 Agustus 2018 menyerang bus pembawa anak sekolah Yaman di kota Dahyan, Provinsi Saada dan menewaskan sedikitnya 55 anak serta melukai 77 lainnya.

Serangan tersebut dikecam oleh organisasi-organisasi dan lembaga pembela hak asasi manusia internasional. Human Rights Watch, HRW pada 16 Agustus 2018 mengumumkan, rezim Saudi dengan persenjataan buatan Amerika Serikat dan Inggris membantai anak-anak sekolah Yaman di Dahyan.

Anehnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres justru mencoret nama koalisi agresor ke Yaman yang dipimpin Arab Saudi dari list hitam pelanggar hak anak. Keputusan yang diumumkan pada Senin (15/6/2020) itu dianggap sebagai pelayanan terbaik PBB kepada Arab Saudi.

Guterres dalam laporan tahunannya kepada Dewan Keamanan PBB mengklaim bahwa koalisi pimpinan Arab Saudi dicoret dari daftar hitam pelanggar hak anak setelah adanya penurunan kasus kematian anak-anak Yaman akibat serangan udara. Menurut klaim Sekjen PBB, koalisi pimpinan Arab Saudi telah melakukan langkah-langkah untuk melindungi anak-anak.

Sebelumnya, PBB pada Oktober 2017 memasukkan koalisi pimpinan Arab Saudi Saudi ke dalam daftar hitam pelanggar hak anak karena membantai sedikitnya 683 anak Yaman dan menghancurkan puluhan sekolah.

Ini bukan pertama kalinya nama Arab Saudi dimasukkan ke dalam daftar hitam pelanggar hak anak namun tak lama setelah itu, nama itu dicoret dari list tersebut. PBB untuk pertama kalinya pada tahun 2016 dan pada era kepemimpinan Ban Ki smoon, mencantumkan Arab Saudi ke dalam daftar pelanggar hak anak untuk waktu singkat.

Ban mengungkapkan bahwa Arab Saudi menekan keras PBB untuk mencoret namanya dari daftar hitam tersebut dengan ancaman memutus bantuan finansial. Oleh karena itu, hanya satu hari setelah pencantuman tersebut, Ban akhirnya menyerah terhadap tekanan dan memutuskan mundur dari keputusannya. Langkah ini menuai respon keras dari berbagai organisasi Hak Asasi Manusia (HAM).

Anak-anak Yaman menjadi korban utama serangan pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi. Menteri Kesehatan Yaman mengumumkan, setiap tahun sedikitnya 100 ribu anak Yaman meninggal dunia akibat perang, embargo, gizi buruk dan kelangkaan obat-obatan.

Ketua Komisi Tinggi Revolusi Yaman Mohammad Ali al-Houthi menuntut PBB mencabut kembali keputusannya mencoret nama koalisi pimpinan Arab Saudi dari daftar hitam pelanggar hak anak di Yaman. Mohammad Ali al-Houthi mengatakan, keputusan PBB ini adalah sebuah kejahatan dan mengindikasikan pengabaian nilai-nilai kemanusiaan. (RA)

Related

Add Comments