Karena Kebijakan Ini, Mahasiswa Asing di AS Terancam Dideportasi

Indonesian Radio 8 views
Penegakan Hukum dan Keimigrasian Amerika Serikat (ICE) pada Senin (6/7/2020) mengumumkan bahwa mahasiswa asing yang terdaftar dalam program online penuh untuk semester musim gugur ini tidak akan diizinkan masuk ke negara ini.

Mahasiswa yang terdaftar dalam program online, harus pindah ke institusi yang melaksanakan metode pendidikan secara langsung. Jika tidak, AS akan meminta mereka meninggalkan negara tersebut dan mungkin akan melakukan deportasi.

Aturan ini mengundang masalah di AS karena ada lebih dari satu juta siswa asing di perguruan tinggi dan universitas AS. Banyak sekolah bergantung pada pendapatan siswa asing, yang biasanya sudah membayar uang pendidikan secara penuh.

Peraturan ini berpotensi 'mengusir' siswa yang memegang visa F-1 dan M-1 di AS. Beberapa sekolah mengakui akan berusaha mematuhi pedoman baru tersebut sehingga siswa asing tetap tinggal di AS.

Pemerintah Presiden Donald Trump menilai langkah tersebut untuk menekan institusi pendidikan yang belum juga membuka kembali sekolah mereka di tengah pandemi global COVID-19.

"Malu pada Administrasi Trump karena mempertaruhkan tidak hanya kesempatan pendidikan bagi siswa yang mendapatkan kesempatan untuk kuliah, tetapi sekarang kesehatan dan kesejahteraan mereka juga," kata Jaksa Agung Becerra.

Dia menambahkan, memaksa universitas dan perguruan tinggi California untuk membuka kelas secara langsung akan mengancam keuangan mereka dan dapat mengubahnya menjadi lokasi "penyebar super" penyakit ini.

Jaksa federal untuk California yang mengajukan puluhan tuntutan hukum atas kebijakan itu mengatakan,"Kita akan melihat Administrasi Trump di pengadilan."

California State University adalah salah satu institusi pendidikan yang berencana menawarkan sebagian besar pendidikan online untuk lebih dari 10.000 siswa asing serta siswa AS pada musim gugur ini.

Universitas Harvard bersama Institut Teknologi Massachusetts, yang juga merencanakan hanya membuka kelas online tahun depan, juga mengajukan gugatan terpisah terhadap kebijakan pada Rabu (8/7/2020).

Harvard dan MIT sebelumnya sudah memindahkan sebagian besar kelas 2020 mereka ke online. Mereka juga berargumen, cara ini sudah dilakukan hampir semua universitas di AS.

Dalam pertemuan di Gedung Putih beberapa waktu lalu, Trump bahkan mengkritik Harvard dan menyebut pendidikan secara online adalah hal konyol. "Cari jalan keluar yang mudah," ujarnya.

Kelompok penentang Trump mengatakan kebijakan ini adalah agenda pembatasan imigrasi yang selama ini dilakukannya. Termasuk menutup akses perjalanan perbatasan Kanada dan Meksiko serta penangguhan visa kerja warga negara asing.

Wakil Sekretaris Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Ken Cuccinelli bahkan berujar keras soal mahasiswa asing. "Tidak ada alasan bagi seorang yang memegang visa pelajar untuk hadir di negara ini, jika kampus tidak mengadakan kelas langsung," ujarnya. (RA)

Add Comments