Kekerasan Terbaru Ungkap Watak Asli Penguasa Amerika

Indonesian Radio 6 views
Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatulllah al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyampaikan pidato live di televisi nasional Republik Islam Iran memperingati Haul Pendiri Republik Islam Iran Imam Khomeini ra pada tanggal 14 Khordad yang tahun ini bertepatan dengan tanggal 3 Juni 2020.

Dalam pidatonya, Rahbar menyebut peristiwa terkini di Amerika Serikat sebagai kemunculan realitas yang selama ini disembunyikan, dan wajah asli pemerintah Amerika dipermalukan di dunia oleh perilaku mereka sendiri.

 

Ayatullah Khamenei menambahkan bahwa aksi seorang polisi Amerika Serikat menekan leher seorang pria kulit hitam dengan lututnya hingga meninggal dunia, yang disaksikan oleh para polisi AS lainnya, bukan peristiwa baru.

 

"Kejahatan ini mencerminkan sepak terjang dan sifat pemerintah AS yang telah melakukan hal yang sama terhadap banyak negara dunia, seperti: Afghanistan, Irak, Suriah, dan sebelumnya Vietnam," imbuhnya.

 

Ayatullah Khamenei menyebut slogan orang Amerika hari ini, "Kami tidak bisa bernafas," sebagai suara hati semua negara yang tertindas.

 

Diskriminasi, rasisme dan kekerasan terhadap warga kulit berwarna, khususnya warga kulit hitam di Amerika Serikat, seumur dengan sejarah negara ini dan selalu menjadi salah satu hal yang dibenci oleh masyarakat Amerika.

 

Warga kulit hitam di Amerika telah melakukan upaya luas untuk  mencapai hak-haknya dan memerangi rasisme, namun belum membuahkan hasil dan mereka masih menjadi korban diskriminasi dan rasialisme.

 

Demonstrasi luas melanda berbagai kota di Amerika sebagai buntut dari perilaku rasis dan kekerasan terstruktur polisi negara ini terhadap warga kulit hitam, di mana korban terbaru adalah George Floyd yang tewas pada tanggal 25 Mei 2020 di  Minneapolis.

 

Pembunuhan terhadap Floyd pada dasarnya telah menyingkap watak dan sifat asli pengusa Amerika. Perilaku dan pembunuhan serupa juga telah sering terjadi dan yang menjadi korban adalah warga kulit hitam.

 

Sekitar 13 persen dari penduduk Amerika adalah warga kulit hitam, namun hak-hak mendasar mereka tidak terpenuhi. Mereka tidak mendapat banyak manfaat dari kekayaan, pendidikan, dan kemakmuran di masyarakat Amerika. Mereka sering menjadi korban kekerasan akibat perilaku rasis.

 

Diskriminasi rasial dan rasisme selalu menjadi ciri utama masyarakat Amerika, dan warga kulit hitam selalu menjadi sasaran perbudakan, pelecehan yang meluas, pembunuhan, dan kekerasan tanpa batas sepanjang tiga abad sejarah Amerika.

 

Meskipun gerakan hak-hak sipil warga kulit hitam pada 1950-an telah menyulut gelombang besar protes dan upaya untuk merealisasikan hak-hak mereka dan menghapus disrkiminasi, namun realitas masyarakat Amerika saat ini menunjukkan kelanjutan diskriminasi rasial di berbagai dimensi dan aspek.

 

Kondisi warga kulit hitam dari sisi ekonomi dan sosial kian hari memburuk, dan salah satu bukti dari fakta ini adalah kekerasan berlebihan dan perilaku brutal polisi Amerika terhadap mereka meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

 

Korban utama dari kekerasan polisi Amerika adalah warga kulit berwarna, khususnya kulit hitam. Mereka tidak pernah mendapat hak-haknya sebagai warga Amerika.

 

Diskriminasi ras, pendidikan, pekerjaan, sosial, dan kekerasan terhadap warga kulit hitam telah menjadi hal biasa di Amerika yang mengklaim diri sebagai pembela HAM dan demokrasi di seluruh dunia.

 

Pada saat yang sama, liputan media di Amerika tentang berita, kekhawatiran atau masalah minoritas warga Afrika-Amerika tidak cukup dan bahkan terkesan terdistorsi. Selama masa kepresidenan Donald Trump, tekanan dan rasisme terhadap warga kulit hitam semakin meningkat karena pendekatan diskriminatif yang diambil presiden AS ini.

 

Menurut seorang pakar politik Prancis, Trump tidak membawa perdamaian dan persahabatan, dan jelas bahwa kekerasan di AS telah meningkat di bawah Presiden Amerika ini. Informasi polisi Federal Amerika (FBI) menunjukkan bahwa sejak Trump berkuasa, kekerasan terhadap minoritas dan kejahatan lainnya meningkat di Amerika.

 

Pendekatan rasis Trump dan dukungan terang-terangan dan tersembunyi kepada pandangan sayap kanan ekstrim dan sikap diskriminatif kelompok ini berperan penting dalam memperluas kekerasan terhadap warga kulit hitam di Amerika dalam beberapa tahun terakhir.

 

Perserikatan Bangsa-bangsa pada Kamis (4/6/2020 mengecam "rasisme struktural" di AS dan menyuarakan kekhawatiran atas serangan terhadap para wartawan yang meliput aksi protes kematian George Floyd.

 

Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet bersikeras bahwa tuntutan dalam demonstrasi George Floyd yang telah meletus di ratusan kota AS perlu didengar dan diatasi, jika AS ingin maju.

 

Meski ada peringatan dan kecaman dari PBB, Trump justru akan menggunaan kekerasan untuk menumpas demonstran. Dia menolak peran presidensial tradisional dalam mengatasi kerusuhan ini. Trump bersumpah untuk memerintahkan pasukan militer guna menindak tegas demonstrasi yang meluas di Amerika. Upaya Trump untuk memadamkan api protes hingga sekarang gagal.

 

Sayangnya Dewan HAM PBB tidak mengambil langkah penting untuk merespon pelanggaran nyata terhadap HAM di Amerika, terutama perilaku rasis dan diskriminatif serta kekerasan terhaap warga kulit hitam. Lembaga ini hanya merasa cukup dengan mengecam dan memprotes kekerasan dan pelanggaran HAM tersebut. (RA)

Add Comments